Senin, 30 September 2019

Rindu Tanah Rantau

Terkisah rindu di balik dinding kota
Terbayang indah di sudut nada senja
Di antara ruang kosong bisingnya suara
Melambai syahdu menyapa

Terpintas semu kala diri berkelana
Mengadu nasib bermodal pena
Mengasah jiwa di tengah kota
Riuh suasana jadi makanan utama

Jauh dari desa
Tertanam asa setiap usaha
Yakin, takkan sia-sia
Kala diri berusaha, hati berdoa
Berharap tak akan ada kecewa

Kini sang pujangga tak lagi berkelana
Diam diri menikmati suasana
Menikmati kesempatan dalam cerita
Tak lagi pusing tuk bercengkrama
Bersama ibunda


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 30 September 2019

Sabtu, 28 September 2019

Bukan Sekadar Janji


Hati kian teriris
Ibu Pertiwi menangis
Saat rakyat disiksa dengan sadis
Oleh penguasa dengan senyuman manis

Bukan,
Bukan senjata tajam menyiksanya
Bukan racun yang menyakitinya
Hanya saja secarik kertas
Berisikan coretan kinerjanya
Memaksa rakyat kian sengsara

Ke mana harus mengadu?
Apakah kepada mereka yang duduk manis dengan secangkir kopi susu?
Atau kepada mereka yang kerja memburu nafsu?
Ah, kini semakin abu-abu

Lalu kemana para pemuda yang memiliki segudang prestasi?
Apakah hanya menumpuk tropi?
Apakah hanya duduk santai di depan televisi?

Bangkit!
Kalian dipanggil oleh Ibu Pertiwi!
Saatnya tunjukkan aksi
Bukan sekedar visi - misi
Apalagi hanya sekadar janji


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 28 Sept 2019

Senin, 23 September 2019

Negeri Merah Senja

Senja


Gelap...
Kutoleh kanan
Kutoleh kiri
Masih saja gelap
Oh ternyata mataku masih tertutup
Oleh asap dan debu
Hingga napas pun kian meredup

Oleh mereka tak berbudi
Tangan jalang manusia tak bernyali
Merusak tanpa membenahi
Mengambil tanpa memberi
Mengikuti instruksi para tikus berdasi
Yang mereka pikir hanya sekedar materi

Membuat gersang tanahku dengan kobaran api terus menyala
Menyapu hutanku hingga rata
Menebar racun tak kasat mata
untuk saudaranya
Hingga nyawa tak sampai dikira
Membunuh asa sebagian manusia

Tak terdengar pula langkah penguasa
Duduk santai di atas singgasana
Bak badut yang penebar tawa
Bersuka ria tanpa lara
Tak melihat rakyat kian menderita
Masih di atas tanah yang sama ia berkuasa

Rakyat jelata merana
Bersimpuh menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa
Karena mereka tau, ini pasti ada jalannya
Hanya Allah harapan nyata


Danz Chisaemaru
 23 September 2019

Sabtu, 21 September 2019

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi



Secangkir kopi
Kunikmati dengan sepiring hati
Kubumbui setetes rindu

Nikmat; seruput demi seruput
Lagi, kupanggil peri imajinasi
Menemani di kala pagi

Semerbak aromanya meninggi
Di setiap jengkal sela pagi
Sesekali membuat diri tak mau pergi

Ah, kini kau memikat hati
Menambah alur cerita di kala pagi
Secangkir kopi


Berlian Makmur
22/09/19

Untukmu yang Tak Terbalas

Jasmine

Tak terbesit pikirku
Tentang perasaanmu
Tentang rasamu
Tentang cintamu

Yang ku tahu, aku bahagia
Tak pernah melihat apa yang ada, memicingkan sebelah mata
Tak peduli dengan sekitarku
Tak peduli perhatianmu

Jasamu tak dapat tergambarkan
Cintamu tulus tak  terbandingkan
Tak terbatas.

Tapi, apa yang kau peroleh?
Hanya tangisan dalam sunyi terkisahkan
Dengan senyum kau tutupi
di belakangku, saat ku bersenang

Saat ini mungkin ku mulai sadar
Hanya maaf dasar hati yang ingin terucap
Berusaha menghapus sebagian tangisan sunyimu
Berganti dengan senyum bahagia

14/04/2014

#PuisiIbu #Ibu #MalaikatTakBersayap

Hujan di Bulan Juli

Ternyata hujan tak hanya turun di bulan Juni hujan lebat turun di bulan Juli di bawah kelopak mata ribuan jiwa yang tak bisa merahasi...