Senin, 23 September 2019

Negeri Merah Senja

Senja


Gelap...
Kutoleh kanan
Kutoleh kiri
Masih saja gelap
Oh ternyata mataku masih tertutup
Oleh asap dan debu
Hingga napas pun kian meredup

Oleh mereka tak berbudi
Tangan jalang manusia tak bernyali
Merusak tanpa membenahi
Mengambil tanpa memberi
Mengikuti instruksi para tikus berdasi
Yang mereka pikir hanya sekedar materi

Membuat gersang tanahku dengan kobaran api terus menyala
Menyapu hutanku hingga rata
Menebar racun tak kasat mata
untuk saudaranya
Hingga nyawa tak sampai dikira
Membunuh asa sebagian manusia

Tak terdengar pula langkah penguasa
Duduk santai di atas singgasana
Bak badut yang penebar tawa
Bersuka ria tanpa lara
Tak melihat rakyat kian menderita
Masih di atas tanah yang sama ia berkuasa

Rakyat jelata merana
Bersimpuh menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa
Karena mereka tau, ini pasti ada jalannya
Hanya Allah harapan nyata


Danz Chisaemaru
 23 September 2019

Sabtu, 21 September 2019

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi



Secangkir kopi
Kunikmati dengan sepiring hati
Kubumbui setetes rindu

Nikmat; seruput demi seruput
Lagi, kupanggil peri imajinasi
Menemani di kala pagi

Semerbak aromanya meninggi
Di setiap jengkal sela pagi
Sesekali membuat diri tak mau pergi

Ah, kini kau memikat hati
Menambah alur cerita di kala pagi
Secangkir kopi


Berlian Makmur
22/09/19

Untukmu yang Tak Terbalas

Jasmine

Tak terbesit pikirku
Tentang perasaanmu
Tentang rasamu
Tentang cintamu

Yang ku tahu, aku bahagia
Tak pernah melihat apa yang ada, memicingkan sebelah mata
Tak peduli dengan sekitarku
Tak peduli perhatianmu

Jasamu tak dapat tergambarkan
Cintamu tulus tak  terbandingkan
Tak terbatas.

Tapi, apa yang kau peroleh?
Hanya tangisan dalam sunyi terkisahkan
Dengan senyum kau tutupi
di belakangku, saat ku bersenang

Saat ini mungkin ku mulai sadar
Hanya maaf dasar hati yang ingin terucap
Berusaha menghapus sebagian tangisan sunyimu
Berganti dengan senyum bahagia

14/04/2014

#PuisiIbu #Ibu #MalaikatTakBersayap

Rabu, 21 Agustus 2019

Senja


Aku penggemarmu
menanti setiap saat tuk menatapmu
menikmati indahmu
dalam kejauhan
berharap kau melihat
memberikan secercah harapan
untuk masa depan

Senja
Danz chisaemaru
27/05/19 23:16

Kamis, 15 Agustus 2019

Indonesia Merdeka

Tampak di mata ini merah putih berkibar sepanjang jalan perkampungan
Ditambah hiasan serba merah putih
Tak lupa kata "Merdeka" terlontar dari bibir para pemimpin
Memeriahkan hadirnya hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia

Di hari yang sama, beberapa pemuda berbaris rapi mengiring bendera pusaka
Dihantarnya menuju tiang tertinggi
Dengan disaksikan oleh beratus raga yang berdiri menatapnya
Khidmat, dengan lagu Indonesia Raya


Merdeka !
Teriak orator ulung di tengah tanah lapang tatkala upara peringatan dilakasanakan
Dengan secercah kertas di tangan memberikan orasi dengan suara lantang
Ia berikan cerita seolah pernah melakukannya

Namun ada hati yang sering bertanya,
Apakah benar Indonesia sudah merdeka?
Dengan harga bahan pokok yang terus melonjak, pemudanya tak dapat kerja, bahkan kebebasan berpendapat sering dibungkam

Ah, mungkin itu hanya perasaannya saja.
Karena para tokoh pemimpin sudah bicara, bahwa kita sudah merdeka.

Danz Chisaemaru
Kamis, 15 Agustus 2019

Tentang Rindu

"Rindu"

Datanglah, lagi dan lagi
Kabarmu lama kau pendam sendiri
Dedaunan pun mengering
Berguguran berganti musim

Rindu....
Rindu ini menantimu,
ingin bertemu di sisi sudut waktu

Rasa rindu tuan bilang
Menjadikan mabuk sendirian
Menanti tuan berharap datang
Hingga kepayang adalah konsumsi harian

Andaikan sajak ini tersampaikan
Ada rasa yang ku titipkan
Meski hanya sebatas tulisan
Hati ini tentu mengharapkan kepastian

Bisik pelipur terdengar
Dinda rindu dinda rindu
Tuan akan datang
Dari sudut kesabaranmu
Dari sudut butir harapan di malam kepayangmu

Terkadang bisikan hanya sebatas berbisik
Diam-diam menelisik
Tak pernah sadar jikalau ada hati terusik
Lalu berangan disudut kota yang berisik

Ah, tuan tak terabaikan
Begitu pula rindunya tak teracuhkan
Tetaplah demikian
Percaya keindahan
Pada akhir penantian

Terangan indah di angan
Kisah rindu yang di pertemukan
Bak senja yang menyatukan siang dan malam
Mengukir cerita indah sebuah kenangan

Sejenak biarkan sejengkal menggelayut menatap
Melipat jarak kejauhan
Perindu tau ia keliru
Perindu tau ada bingung kala petang berlabuh

Ah, rona merahmu memang indah
Membuat hati semakin gundah
Semakin hari semakin bertambah
Berkisah rindu yang memecah

Begitu pun demikian
Hanya boleh kagum kuperbolehkan
Meski tak bisa diperlebihkan
Sedikit daging membalut tulang tubuh itu
Terimakasih perlakuanmu menghadapi rindu

Palembang-Jogjakarta, 14/09/2017

Hujan di Bulan Juli

Ternyata hujan tak hanya turun di bulan Juni hujan lebat turun di bulan Juli di bawah kelopak mata ribuan jiwa yang tak bisa merahasi...