Minggu, 08 Desember 2019

Mendekap Malam



Sepotong senja yang kusantap tadi kini menghilang
Diiringi melodi rindu mendayu
Mengisahkan luka yang tak kunjung hilang
Memaksa hati kian pilu

Beberapa kali kutimbang rasa
Berulang pula kudaki asa, mengharap rinai tawa
Ketika kucoba, hanya membuka lembaran lama
Tak ayal diri ini hanya meracik luka

Anila malam kuharap bisa membaca
Membawaku meminang senja

Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 8 Desember 2019
23.00 wib

#FLP #flpsumsel #lampauibatasmu #ForumLingkarPena


Puncak Harapan


(Syair dari Fathan)
Oleh : Danz Chisaemaru

Dari puncak ini kutatap sang surya hadir membelah barisan awan
Hangatnya terasa menyentuh tubuh
Mengusir lelah perjalanan yang membekas beberapa saat lalu
Membuat mata ini kian fokus menikmati alam

Dari puncak ini syukur kupanjatkan
Begitu elok ciptaan Tuhan
Kutatap baris pepohonan membentang luas di dataran

Dari puncak ini kucurahkan harapan
Saat kutatap awan berduyun-duyun datang menutup sebagian permukaan
Ciptakan nuansa elok di atas awan
Kuharap kelak kita diberi kesempatan untuk berdampingan

Berlian Makmur, 03/12/2019

#flpsumsel #WAGFLPSumselMenulis #lampauibatasmu

Senin, 02 Desember 2019

Cerita Senja bersama Hujan


Temaram senja
Kita lewati jalanan padat Palembang-Indralaya
Lebatnya hujan hadir membersamai kita
Di atas kendaraan roda dua, kita tertawa meluapkan emosi bersama
Begitu nikmat di kala itu, berjalan bersama tanpa merasa beda
Beberapa kali sawala hadir diantara kita
Bincangkan gadis kenes yang pernah kita sapa
Sepertinya itu hanya faktitius saja
Kita lupa, lalu tertawa
Terus saja kita nikmati perjalanan tanpa dusta

Lima tahun begitu saja berlalu
Terasa berbeda kini
Hujan kunikmati sendiri
Menyisakan kenangan yang menjadi teyan pengisi hari
Karena kau telah pergi dan takkan pernah kembali
Mengambil tempat terindah di sisi Illahi

Ya Allah....
Berikanlah surga terbaik untuknya
Sahabatku kala di dunia
Semoga Kau perkenankan kami berjumpa pada waktunya


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 2 Desember 2019

Selasa, 29 Oktober 2019

Bahasamu Bahasaku Jua


Terucap kata dari beberapa pemuda
Bertutur canda sambil tertawa
Tampak ceria terpancar di wajah mereka
Tapi sayang, tak semua memahaminya
Hanya segelintir saja,
Tak paham bahasanya
Beberapa hanya ikut tertawa meski tak tau makna

Sebagian bahasa Jawa,
Sebagian bahasa Sunda,
Sebagian lagi bahasa Eropa

Andaikan sama bahasa
Takkan ada curiga di antara kita
Pasti bahagia saling menerima
Bercerita ini itu tak terbata

Wahai pemuda,
Kenapa tak gunakan saja Bahasa Indonesia?
Bahasa pemersatu bangsa
Yang tak jadikan kita berbeda

Bukankah para pemuda telah bersumpah
Memiliki bahasa satu bahasa Indonesia
Bahkan lagu wajib nasional pun telah bercerita
Satu Nusa, satu bangsa, satu bahasa kita

Sadarlah wahai pemuda, bahasa menyatukan Indonesia


Danz Chisaemaru
28 sept 2019

Senin, 30 September 2019

Rindu Tanah Rantau

Terkisah rindu di balik dinding kota
Terbayang indah di sudut nada senja
Di antara ruang kosong bisingnya suara
Melambai syahdu menyapa

Terpintas semu kala diri berkelana
Mengadu nasib bermodal pena
Mengasah jiwa di tengah kota
Riuh suasana jadi makanan utama

Jauh dari desa
Tertanam asa setiap usaha
Yakin, takkan sia-sia
Kala diri berusaha, hati berdoa
Berharap tak akan ada kecewa

Kini sang pujangga tak lagi berkelana
Diam diri menikmati suasana
Menikmati kesempatan dalam cerita
Tak lagi pusing tuk bercengkrama
Bersama ibunda


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 30 September 2019

Sabtu, 28 September 2019

Bukan Sekadar Janji


Hati kian teriris
Ibu Pertiwi menangis
Saat rakyat disiksa dengan sadis
Oleh penguasa dengan senyuman manis

Bukan,
Bukan senjata tajam menyiksanya
Bukan racun yang menyakitinya
Hanya saja secarik kertas
Berisikan coretan kinerjanya
Memaksa rakyat kian sengsara

Ke mana harus mengadu?
Apakah kepada mereka yang duduk manis dengan secangkir kopi susu?
Atau kepada mereka yang kerja memburu nafsu?
Ah, kini semakin abu-abu

Lalu kemana para pemuda yang memiliki segudang prestasi?
Apakah hanya menumpuk tropi?
Apakah hanya duduk santai di depan televisi?

Bangkit!
Kalian dipanggil oleh Ibu Pertiwi!
Saatnya tunjukkan aksi
Bukan sekedar visi - misi
Apalagi hanya sekadar janji


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 28 Sept 2019

Senin, 23 September 2019

Negeri Merah Senja

Senja


Gelap...
Kutoleh kanan
Kutoleh kiri
Masih saja gelap
Oh ternyata mataku masih tertutup
Oleh asap dan debu
Hingga napas pun kian meredup

Oleh mereka tak berbudi
Tangan jalang manusia tak bernyali
Merusak tanpa membenahi
Mengambil tanpa memberi
Mengikuti instruksi para tikus berdasi
Yang mereka pikir hanya sekedar materi

Membuat gersang tanahku dengan kobaran api terus menyala
Menyapu hutanku hingga rata
Menebar racun tak kasat mata
untuk saudaranya
Hingga nyawa tak sampai dikira
Membunuh asa sebagian manusia

Tak terdengar pula langkah penguasa
Duduk santai di atas singgasana
Bak badut yang penebar tawa
Bersuka ria tanpa lara
Tak melihat rakyat kian menderita
Masih di atas tanah yang sama ia berkuasa

Rakyat jelata merana
Bersimpuh menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa
Karena mereka tau, ini pasti ada jalannya
Hanya Allah harapan nyata


Danz Chisaemaru
 23 September 2019

Sabtu, 21 September 2019

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi



Secangkir kopi
Kunikmati dengan sepiring hati
Kubumbui setetes rindu

Nikmat; seruput demi seruput
Lagi, kupanggil peri imajinasi
Menemani di kala pagi

Semerbak aromanya meninggi
Di setiap jengkal sela pagi
Sesekali membuat diri tak mau pergi

Ah, kini kau memikat hati
Menambah alur cerita di kala pagi
Secangkir kopi


Berlian Makmur
22/09/19

Untukmu yang Tak Terbalas

Jasmine

Tak terbesit pikirku
Tentang perasaanmu
Tentang rasamu
Tentang cintamu

Yang ku tahu, aku bahagia
Tak pernah melihat apa yang ada, memicingkan sebelah mata
Tak peduli dengan sekitarku
Tak peduli perhatianmu

Jasamu tak dapat tergambarkan
Cintamu tulus tak  terbandingkan
Tak terbatas.

Tapi, apa yang kau peroleh?
Hanya tangisan dalam sunyi terkisahkan
Dengan senyum kau tutupi
di belakangku, saat ku bersenang

Saat ini mungkin ku mulai sadar
Hanya maaf dasar hati yang ingin terucap
Berusaha menghapus sebagian tangisan sunyimu
Berganti dengan senyum bahagia

14/04/2014

#PuisiIbu #Ibu #MalaikatTakBersayap

Rabu, 21 Agustus 2019

Senja


Aku penggemarmu
menanti setiap saat tuk menatapmu
menikmati indahmu
dalam kejauhan
berharap kau melihat
memberikan secercah harapan
untuk masa depan

Senja
Danz chisaemaru
27/05/19 23:16

Kamis, 15 Agustus 2019

Indonesia Merdeka

Tampak di mata ini merah putih berkibar sepanjang jalan perkampungan
Ditambah hiasan serba merah putih
Tak lupa kata "Merdeka" terlontar dari bibir para pemimpin
Memeriahkan hadirnya hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia

Di hari yang sama, beberapa pemuda berbaris rapi mengiring bendera pusaka
Dihantarnya menuju tiang tertinggi
Dengan disaksikan oleh beratus raga yang berdiri menatapnya
Khidmat, dengan lagu Indonesia Raya


Merdeka !
Teriak orator ulung di tengah tanah lapang tatkala upara peringatan dilakasanakan
Dengan secercah kertas di tangan memberikan orasi dengan suara lantang
Ia berikan cerita seolah pernah melakukannya

Namun ada hati yang sering bertanya,
Apakah benar Indonesia sudah merdeka?
Dengan harga bahan pokok yang terus melonjak, pemudanya tak dapat kerja, bahkan kebebasan berpendapat sering dibungkam

Ah, mungkin itu hanya perasaannya saja.
Karena para tokoh pemimpin sudah bicara, bahwa kita sudah merdeka.

Danz Chisaemaru
Kamis, 15 Agustus 2019

Tentang Rindu

"Rindu"

Datanglah, lagi dan lagi
Kabarmu lama kau pendam sendiri
Dedaunan pun mengering
Berguguran berganti musim

Rindu....
Rindu ini menantimu,
ingin bertemu di sisi sudut waktu

Rasa rindu tuan bilang
Menjadikan mabuk sendirian
Menanti tuan berharap datang
Hingga kepayang adalah konsumsi harian

Andaikan sajak ini tersampaikan
Ada rasa yang ku titipkan
Meski hanya sebatas tulisan
Hati ini tentu mengharapkan kepastian

Bisik pelipur terdengar
Dinda rindu dinda rindu
Tuan akan datang
Dari sudut kesabaranmu
Dari sudut butir harapan di malam kepayangmu

Terkadang bisikan hanya sebatas berbisik
Diam-diam menelisik
Tak pernah sadar jikalau ada hati terusik
Lalu berangan disudut kota yang berisik

Ah, tuan tak terabaikan
Begitu pula rindunya tak teracuhkan
Tetaplah demikian
Percaya keindahan
Pada akhir penantian

Terangan indah di angan
Kisah rindu yang di pertemukan
Bak senja yang menyatukan siang dan malam
Mengukir cerita indah sebuah kenangan

Sejenak biarkan sejengkal menggelayut menatap
Melipat jarak kejauhan
Perindu tau ia keliru
Perindu tau ada bingung kala petang berlabuh

Ah, rona merahmu memang indah
Membuat hati semakin gundah
Semakin hari semakin bertambah
Berkisah rindu yang memecah

Begitu pun demikian
Hanya boleh kagum kuperbolehkan
Meski tak bisa diperlebihkan
Sedikit daging membalut tulang tubuh itu
Terimakasih perlakuanmu menghadapi rindu

Palembang-Jogjakarta, 14/09/2017

Hujan di Bulan Juli

Ternyata hujan tak hanya turun di bulan Juni hujan lebat turun di bulan Juli di bawah kelopak mata ribuan jiwa yang tak bisa merahasi...