Bagai pohon besar hampir mati
Daunnya berguguran, menyisakan dahan tak bertaji
Seperti itulah wajah negeriku kini
Tak lagi nyaman disinggahi
Semenjak ia yang tak kasat mata mengusik
Mengancam setiap insan dengan berani
Musim hujan terasa kemarau
Dan hati manusia kian risau
Ketika lumbung-lumbung mulai habis
Dompet rakyat pun semakin tipis
Hanya menyisakan tangis
Tuan di singgasana sana masih tampak tenang dan berpidato dengan bijaksana, memukul rata semua rakyatnya
Meminta rakyatnya di rumah saja, agar corona tak merajalela
Namun, apakah rakyat desa bisa makan saat di rumah saja?
Ketika harga bahan makan tak lagi biasa
Penghasilan yang dibutuhkan sudah tiada
Dan mereka yang bertahta masih ada saja suka bercanda
Apakah benar ini hanya salah corona?
Bukankah ada juga yang salah dari manusia?
Yang sukanya berfoya-foya
Ketika susah barulah mengeluh kepada Tuhannya
Harusnya kita juga berkaca sebagai manusia, agar tak lupa dengan segala nikmat yang Allah berikan di alam semesta.
Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 18 April 2020
