Bagai pohon besar hampir mati
Daunnya berguguran, menyisakan dahan tak bertaji
Seperti itulah wajah negeriku kini
Tak lagi nyaman disinggahi
Semenjak ia yang tak kasat mata mengusik
Mengancam setiap insan dengan berani
Musim hujan terasa kemarau
Dan hati manusia kian risau
Ketika lumbung-lumbung mulai habis
Dompet rakyat pun semakin tipis
Hanya menyisakan tangis
Tuan di singgasana sana masih tampak tenang dan berpidato dengan bijaksana, memukul rata semua rakyatnya
Meminta rakyatnya di rumah saja, agar corona tak merajalela
Namun, apakah rakyat desa bisa makan saat di rumah saja?
Ketika harga bahan makan tak lagi biasa
Penghasilan yang dibutuhkan sudah tiada
Dan mereka yang bertahta masih ada saja suka bercanda
Apakah benar ini hanya salah corona?
Bukankah ada juga yang salah dari manusia?
Yang sukanya berfoya-foya
Ketika susah barulah mengeluh kepada Tuhannya
Harusnya kita juga berkaca sebagai manusia, agar tak lupa dengan segala nikmat yang Allah berikan di alam semesta.
Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 18 April 2020

Semoga kita semua bisa bermuhasabah diri sebagai manusia. Dan semoga semua ini bisa cepat berlalu. Terima kasih untuk karyanya KK yang menginspirasi 🌺
BalasHapusSudah seharusnya wabah ini membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Melirik ke belakang untuk menemukan kesalahan. Kemudian mengambil pelajaran. Semoga keadaan lekas kembali normal.
BalasHapusBukan hanya corona, lebih dari itu, wabah ini sebagai pengujian terhadap hamba-hambaNya apakah akan tetap istiqomah terhadap ketetapanNya atau malah sebaliknya.
BalasHapusSemoga kondisi ini segera pulih lagi dan ada pelajaran yang bisa kita ambil dari situasi ini.
BalasHapus
BalasHapusSatu pertanyaan penting, mengapa Allah sampai mengusir kita dari rumahNya?
Mungkin terlalu banyak kezaliman yang kita lakukan, hingga Allah murka.
Semoga wabah ini segera berakhir, agar kita bisa bersama sama menjalani aktivakti kebaikan kembali. Semoga jadi bahan muhasabah untuk kita, aamiin
BalasHapus