Sabtu, 01 Agustus 2020

Hujan di Bulan Juli



Ternyata hujan tak hanya turun di bulan Juni
hujan lebat turun di bulan Juli
di bawah kelopak mata ribuan jiwa
yang tak bisa merahasiakan rindunya

Hujan bulan Juli
tak lebih bijak dari hujan bulan Juni
tak mampu menghapus jejak-jejak karyanya
yang tanpa ragu itu

Hujan bulan Juli
tak lebih arif dari bulan Juni
hanya mampu mengantarkan doa-doa
yang diserap oleh Sang Pencipta
berharap surga menjadi balasannya


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 26 Juli 2020

Minggu, 19 April 2020

Ini Salah Siapa?



Bagai pohon besar hampir mati
Daunnya berguguran, menyisakan dahan tak bertaji
Seperti itulah wajah negeriku kini
Tak lagi nyaman disinggahi
Semenjak ia yang tak kasat mata mengusik
Mengancam setiap insan dengan berani

Musim hujan terasa kemarau
Dan hati manusia kian risau
Ketika lumbung-lumbung mulai habis
Dompet rakyat pun semakin tipis
Hanya menyisakan tangis

Tuan di singgasana sana masih tampak tenang dan berpidato dengan bijaksana, memukul rata semua rakyatnya
Meminta rakyatnya di rumah saja, agar corona tak merajalela
Namun, apakah rakyat desa bisa makan saat di rumah saja?
Ketika harga bahan makan tak lagi biasa
Penghasilan yang dibutuhkan sudah tiada
Dan mereka yang bertahta masih ada saja suka bercanda

Apakah benar ini hanya salah corona?
Bukankah ada juga yang salah dari manusia?
Yang sukanya berfoya-foya
Ketika susah barulah mengeluh kepada Tuhannya

Harusnya kita juga berkaca sebagai manusia, agar tak lupa dengan segala nikmat yang Allah berikan di alam semesta.


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 18 April 2020

Selasa, 25 Februari 2020

Kopi Literasi


Menyeruak aromanya menusuk rongga pernapasan
Ketika air hangat menyentuhnya di dalam gelas saji
Tampak seorang barista dengan luwes
Menakar dengan teliti
Berharap menciptakan takaran yang pas untuk dinikmati

Di luar, hujan dengan lebatnya menyapa bumi pertiwi
Mengguyur bumi Sriwijaya, tempatku berdiri
Membawa udara dingin yang kian menusuk kulit tanpa henti

Dingin hujan semakin memaksa diri ini segera menyeruput segelas kopi yang tersaji
Bersama para pemuda dengan semangat tinggi mendalami ilmu literasi
Yang pasti tanpa basa-basi


Danz Chisaemaru
Palembang, 25/02/20

Minggu, 08 Desember 2019

Mendekap Malam



Sepotong senja yang kusantap tadi kini menghilang
Diiringi melodi rindu mendayu
Mengisahkan luka yang tak kunjung hilang
Memaksa hati kian pilu

Beberapa kali kutimbang rasa
Berulang pula kudaki asa, mengharap rinai tawa
Ketika kucoba, hanya membuka lembaran lama
Tak ayal diri ini hanya meracik luka

Anila malam kuharap bisa membaca
Membawaku meminang senja

Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 8 Desember 2019
23.00 wib

#FLP #flpsumsel #lampauibatasmu #ForumLingkarPena


Puncak Harapan


(Syair dari Fathan)
Oleh : Danz Chisaemaru

Dari puncak ini kutatap sang surya hadir membelah barisan awan
Hangatnya terasa menyentuh tubuh
Mengusir lelah perjalanan yang membekas beberapa saat lalu
Membuat mata ini kian fokus menikmati alam

Dari puncak ini syukur kupanjatkan
Begitu elok ciptaan Tuhan
Kutatap baris pepohonan membentang luas di dataran

Dari puncak ini kucurahkan harapan
Saat kutatap awan berduyun-duyun datang menutup sebagian permukaan
Ciptakan nuansa elok di atas awan
Kuharap kelak kita diberi kesempatan untuk berdampingan

Berlian Makmur, 03/12/2019

#flpsumsel #WAGFLPSumselMenulis #lampauibatasmu

Senin, 02 Desember 2019

Cerita Senja bersama Hujan


Temaram senja
Kita lewati jalanan padat Palembang-Indralaya
Lebatnya hujan hadir membersamai kita
Di atas kendaraan roda dua, kita tertawa meluapkan emosi bersama
Begitu nikmat di kala itu, berjalan bersama tanpa merasa beda
Beberapa kali sawala hadir diantara kita
Bincangkan gadis kenes yang pernah kita sapa
Sepertinya itu hanya faktitius saja
Kita lupa, lalu tertawa
Terus saja kita nikmati perjalanan tanpa dusta

Lima tahun begitu saja berlalu
Terasa berbeda kini
Hujan kunikmati sendiri
Menyisakan kenangan yang menjadi teyan pengisi hari
Karena kau telah pergi dan takkan pernah kembali
Mengambil tempat terindah di sisi Illahi

Ya Allah....
Berikanlah surga terbaik untuknya
Sahabatku kala di dunia
Semoga Kau perkenankan kami berjumpa pada waktunya


Danz Chisaemaru
Berlian Makmur, 2 Desember 2019

Selasa, 29 Oktober 2019

Bahasamu Bahasaku Jua


Terucap kata dari beberapa pemuda
Bertutur canda sambil tertawa
Tampak ceria terpancar di wajah mereka
Tapi sayang, tak semua memahaminya
Hanya segelintir saja,
Tak paham bahasanya
Beberapa hanya ikut tertawa meski tak tau makna

Sebagian bahasa Jawa,
Sebagian bahasa Sunda,
Sebagian lagi bahasa Eropa

Andaikan sama bahasa
Takkan ada curiga di antara kita
Pasti bahagia saling menerima
Bercerita ini itu tak terbata

Wahai pemuda,
Kenapa tak gunakan saja Bahasa Indonesia?
Bahasa pemersatu bangsa
Yang tak jadikan kita berbeda

Bukankah para pemuda telah bersumpah
Memiliki bahasa satu bahasa Indonesia
Bahkan lagu wajib nasional pun telah bercerita
Satu Nusa, satu bangsa, satu bahasa kita

Sadarlah wahai pemuda, bahasa menyatukan Indonesia


Danz Chisaemaru
28 sept 2019

Hujan di Bulan Juli

Ternyata hujan tak hanya turun di bulan Juni hujan lebat turun di bulan Juli di bawah kelopak mata ribuan jiwa yang tak bisa merahasi...